Berita Hawzah – Rangkaian Kajian Mahdawiyah bertajuk "Menuju Peradaban yang Ideal" dipersembahkan kepada para pembaca budiman dengan tujuan menyebarluaskan ajaran dan makrifat yang berkaitan dengan Imam Zaman ajjalallahu ta'ala farajahu asy-syarif.
Semangat, vitalitas, dan dinamika manusia dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial, sangat bergantung pada nikmat harapan dan penantian (intizhar al-Faraj). Jika manusia tidak memiliki harapan terhadap masa depan, maka kehidupan akan kehilangan maknanya. Sesuatu yang membuat manusia tetap optimis menjalani hidup, menjadikan kehidupan terasa bernilai, serta meringankan beban kegelisahan dan kesedihan adalah penantian dan harapan akan masa depan yang cerah, yang membawa pertumbuhan dan kesempurnaan, di mana seluruh kebutuhan rohani dan jasmaninya terpenuhi secara utuh. Berkat harapan dan penantian inilah manusia mampu menanggung berbagai kesulitan dan penderitaan, lalu terus melangkah di jalan kehidupannya. Kaum Syiah, dengan berpegang teguh pada ajaran Ahlulbait alaihimussalam, menjadikan harapan dan penantian akan masa depan tersebut sebagai pelita yang menerangi perjalanan hidup mereka.
Makna Leksikal dan Terminologis Intizhar al-Faraj (Menantikan Datangnya Al-Faraj)
Secara bahasa, intizhar berarti menanti, menunggu, atau menantikan dengan penuh harapan.(1) Adapun dalam istilah, intizhar berarti menantikan kemunculan hujah terakhir Allah, yaitu Imam Mahdi alaihissalam, serta mempersiapkan diri untuk menolong beliau dalam menegakkan pemerintahan yang berlandaskan keadilan di seluruh penjuru dunia.
Dengan ungkapan lain, "intizhar adalah suatu keadaan batin yang melahirkan kesiapan dalam diri seseorang untuk menghadapi apa yang dinantikannya. Lawan dari intizhar adalah keputusasaan dan hilangnya harapan. Semakin besar penantian dan semakin terang cahaya harapan itu, semakin besar pula semangat, dinamika, dan kesiapan seseorang."(2)
Kata faraj berarti "kemudahan", "jalan keluar", atau "terangkatnya kesulitan." Oleh karena itu, intizhar al-faraj (menantikan datangnya al-Faraj) berakar dari fitrah manusia yang selalu mendambakan kesempurnaan, meskipun faktor-faktor lain juga dapat menjadi pendorong munculnya penantian tersebut. Berbeda dengan anggapan sebagian orang yang mengira bahwa konsep Mahdawiyah merupakan hasil pemikiran kaum Syiah, keyakinan terhadap Imam Mahdi bukanlah ajaran yang hanya dimiliki oleh para pengikut Ahlulbait alaihimussalam. Kepercayaan kepada Imam Mahdi merupakan bagian penting dari akidah Islam dan salah satu prinsip mendasar dalam ajaran Islam yang diterima oleh seluruh mazhab dan kelompok Islam, berdasarkan kabar gembira yang terdapat dalam Al-Qur'an serta ajaran Rasulullah saw. Riwayat-riwayat tentang Imam Mahdi alaihissalam, sebagaimana tercantum dalam sumber-sumber Syiah, juga diriwayatkan dalam banyak kitab hadis terkenal di kalangan Ahlusunah.
Oleh karena itu, keyakinan akan kemenangan akhir kekuatan kebenaran serta tegaknya secara sempurna dan menyeluruh nilai-nilai luhur insani melalui seorang tokoh agung yang dalam riwayat-riwayat Islam disebut sebagai "Al-Mahdi", merupakan keyakinan yang bersumber dari wahyu. Karena itu, penantian terhadap masa tersebut bukan hanya dijumpai dalam ajaran para penganut seluruh agama samawi, tetapi juga memiliki kedudukan yang sangat penting di kalangan umat Islam.
Kedudukan Penantian dalam Budaya Syiah
Berdasarkan kajian singkat terhadap riwayat-riwayat yang membahas tentang intizhar (penantian), riwayat-riwayat tersebut secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a). Intizhar al-Faraj dalam pengertian umum (Makna Umum), yaitu menantikan datangnya pertolongan, jalan keluar, dan kemudahan dari Allah.
b). Intizhar al-Faraj dalam pengertian khusus (Makna Khas), yaitu menantikan kemunculan Imam Mahdi aalaihissalam dan mempersiapkan diri untuk menyambut serta mendukung perjuangan beliau.
Pembahasan ini akan berlanjut...
Diadaptasi dari buku Darsnāmeh-ye Mahdawiyyah karya Khodamurad Salimian, dengan sedikit penyuntingan.
Komentar Anda